KOLINTANG

Thursday, May 26, 2016

Kolintang merupakan alat musik khas dari Minahasa, Sulawesi Utara yang mempunyai bahan dasar kayu. Jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi yang cukup panjang dan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah. Pemakaian kolintang berhubungan dengan kepercayaan tradisional rakyat Minahasa, seperti dalam upacara ritual sehubungan dengan pemujaan arwah para leluhur.

KOLINTANG
Kolintang
Ketika ajaran Kristen mulai masuk ke tanah Minahasa pada tahun 1800-an, keberadaan alat ini mulai menghilang sekitar hampir 1 abad lamanya. Tapi belakangan kolintang sebagai alat kesenian budaya daerah kembali dikenal oleh masyarakat. Hingga pada akhir perang dunia ke-2, seorang budayawan bernama Nelwan Katuuk berhasil menciptakan susunan nada baru dan mengkreasikan alat musik kolintang dengan lebih baik.

Pada masa ini, alat musik ini sudah terkenal di seluruh penjuru nusantara. Bukan hanya itu saja, kolintang juga tercatat dalam buku Guinness World of Record dalam kategori kolintang berukuran raksasa yang terbuar dari bahan kayu cempaka dengan panjang 8 meter, lebar 2,5 meter, tinggi 2 meter, berat 3,168 kilogram dengan volume bahan 13,7 meter kubik.


Para pemain melodi kolintang kayu pada periode ini antara lain :

1. Janjte Dungus (Suwaan – Tonsea)
2. Josep Iwi Sundah (Lembean)
3. Gustaaf Warouw (Tomohon)
4. Bert Rako (Kakaskasen – Tomohon)
5. Worang Ransun (Maumbi – Tonsea )